Bismillahirahmanirrahim...
Sekarang mari kita berhenti sejenak dan merenung. Melihat situasi pribadi masing-masing. Perenungan ini mari mulai dari suatu perbandingan. Bandingkan kondisi Anda saat masa kanak-kanak dengan kondisi sekarang ini. Berbedakah? Pasti berbeda. Apa yang berbeda? Secara detil Anda sendiri yang bisa menjawabnya karena Anda yang mengalaminya.
Perbedaan tersebut kita pikirkan lebih lanjut. Hal yang paling mencolok pasti kondisi sekarang lebih kompleks dibandingkan masa kanak-kanak. Betapa tidak, Anda dibebankan pada tanggung jawab yang luar biasa berat. Anda juga mengalami fase kesendirian saat ini. Sangat berbeda dengan masa kanak-kanak. Mindset anak-anak berorientasi pada bermain bersama teman-temannya. Anak-anak cenderung bergerak bebas dan lepas. Masa kanak-kanak adalah masa dimana sisi logika berpengaruh besar. Sisi perasaan tidak begitu berpengaruh, wajar saja anak-anak tidak malu mandi hujan tanpa memakai baju. Selain itu, anak-anak tidak memiliki tanggung jawab yang harus diselesaikan. Bahkan anak-anak tidak mengerti apa itu tanggung jawab. Anak-anak hanyut dalam dunia fantasinya dan tak jarang mereka sering beranggapan bahwa mereka adalah power ranger. Saat Anda menjadi seorang mahasiswa, Anda dibebankan pada sederet target yang harus dicapai. Orang tua Anda mulai mengeluarkan mandat-mandatnya kepada Anda. Anda juga merasa terikat dan terkekang oleh kesendirian seolah-olah tidak ada yang peduli pada Anda. Anda merasa semua hal yang di depan mata Anda harus Anda lakukan sendiri. Dilematis sekali saat Anda penuh beban ditambah asumsi Anda yang mengatakan, "gak ada yang peduli ma aku!". Belum lagi ditambah dengan masalah sosial di sekitar Anda.
Jelaslah permasalahan Anda sekarang. Selanjutnya, Anda harus memikirkan cara untuk mengatasi semua permasalahan tersebut. Inilah hal terpenting dari seorang pemuda. Solusi yang dihasilkan cenderung menjadi sebuah prinsip bagi pemuda. Buruk sekali jika solusi yang dihasilkan berupa solusi dari pemikiran yang tak jernih. Pemikiran yang tak jernih bersumber dari gangguan dari diri sendiri (hawa nafsu) dan pihak ketiga (setan). Hal yang terpenting adalah pengendalian diri (masalah fundamental bagi tiap manusia). Hal itu bisa diilustrasikan sebagai berikut, Anda yang sedang menjadi mahasiswa tengah menghadapi tugas yang banyak sekali. Anda merasa "freak" dengan tugas ini (masalah mulai muncul). Anda merasa sudah tidak sanggup. Di sini lah, Anda harus menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam proses pemikiran, jika Anda kalah dengan diri Anda sendiri dan pihak ketiga, maka kemungkinan Anda menemukan solusi "Ah, ngapaen repot2. Males dah! Liat punya temen aja.". Bahkan Anda berpikir, "biarin aja lah, masih bisa ngulang taun depan.". Seperti inilah hasil pemikiran yang tak jernih.
Pemikiran yang jernih membutuhkan hati yang bersih dan terjaga dari hawa nafsu maupun setan. Jika Anda berpikir ingin memiliki hati yang bersih, saya rasa itu mungkin. Hanya saja itu sangat sulit. Jadi, apa yang harus Anda lakukan? Ya, Anda harus berusaha mendekati hati yang bersih sedekat mungkin. Anda harus melepas kecintaan Anda terhadap dunia. Berpikirlah bahwa dunia diciptakan untuk kebutuhan saja. Jangan berlebihan mencintai dunia. Dunia merupakan alat yang paling sering digunakan setan untuk merusak manusia. Saya pikir sudah banyak kisah yang menceritakan para pecinta dunia. Anda bisa menyimpulkan sendiri tentang kisah-kisah itu.
by: E04
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan komentar di sini: